5 Tempat Wisata Kolonial Yang Ada Di Jambi

Selainnya kaya rekreasi alam, Jambi memiliki tempat rekreasi monumental warisan Belanda atau penjajahan yang wajib buat didatangi saat sedang berekreasi di Jambi. Berkunjung tempat rekreasi penjajahan bermakna dua hal: rileksasi diri sekalian belajar riwayat. Berikut ada 5 tempat rekreasi penjajahan yang harus didatangi saat sedang berekreasi di Jambi.

1. Menengok bangunan-bangunan tua di Kota Tua Batanghari

Di tanah Jambi, ada kompleks bangunan tua yang dibuat pada periode penjajahan Belanda. Kompleks bangunan tua ini sampai ini hari tetap berdiri kuat dan jadi tujuan rekreasi riwayat di kota Jambi. Bangunan yang memiliki nuansa penjajahan ini berada di Jalan Lintasi Sumatera Lajur tengah (Jalinteng) Batanghari Jambi, hingga disebutkan Kota Tua Batanghari.

Disamping itu, bangunan sebagai saksi bisu saat-saat perubahan kekuasaan dari periode penjajahan ke periode kemerdekaan ini sudah alami perbaikan berulang-kali pada bagian-bagian oleh pemerintahan di tempat. Kota Tua Batanghari jadi rekreasi penjajahan yang pas untuk didatangi untuk ketahui bangunan tua memiliki nuansa Belanda.

2. Menara Air tua yang tetap kokoh berdiri

Tempat rekreasi penjajahan yang harus didatangi saat sedang ada di Jambi ialah Menara Air Benteng. Sekilas, bangunan tua ini terlihat biasa, tetapi pada bangunan dengan tinggi 90 mtr. ini berisi riwayat utama di Jambi. Pada periode penjajahan belanda, menara ini dipakai untuk mengincar lawan yang akan serang lewat sungai di bawahnya. Oleh karena itu, menara ini disebutkan Menara Air Benteng.

Disamping itu, di menara air berikut terjadi pengibaran bendera merah putih di tahun 1945 saat Indonesia merdeka. Sekarang, menara yang kuat berdiri ini dikenali dengan Menara Air PDAM karena diatur oleh PDAM. Menara Air ini berada di wilayah Putri Ayu Jambi, tepat ada di samping Mushola Al Falah atau yang dikenali Mushola Seribu Tiang.

3. Menikmati bangunan berarsitektur Belanda, Melayu dan Tionghoa di Rumah Batu Olak Kemang

Rumah Batu Olak Kemang simpan riwayat penting mengenai kesultanan Jambi. Rumah yang berada di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang Kota Jambi (Sekoja) ini dahulunya sebagai rumah Ali Idrus Al-Jufri, seorang turunan Arab yang mempunyai posisi utama di Kesultanan Jambi dan mendapat gelar Pangeran Wiro Kusumo.

Rumah monumental ini dibikin dengan menyatukan elemen arsitektur Melayu, China dan Belanda. Elemen Melayu terlihat pada rumah panggun. Elemen Cina pada wujud atap, gapura dan ornament-ornamen berwujud naga, awan, bunga dan arca singa. Dan elemen Belanda pada beberapa tiang penyangga pentas. Sayang, bangunan monumental belum terurus dengan optimal, hingga kerusakan pada bangunan di sana-sini masih kelihatan.

4. Menyaksikan Makam Belanda atau Kerkhof di Kota Jambi

Tidak perlu jauh untuk menyaksikan pusara Belanda, di Jambi ada kompleks pusara Belanda sebagai saksi riwayat saat Belanda berkuasa di Jambi di antara 1833 sampai 1945. Pusara Belanda atau Kerkhof berada di Kelurahan Beringin, Kecamatan Pasar, Kota Jambi. Pusara yang kuat berdiri ini berisi 31 pusara Belanda dan sudah jadi situs monumental.

5. Kelenteng Hok Tek yang sangat bersejarah

Kelenteng Hok Tek sebagai kelenteng paling tua di Jambi. Kelenteng ini sudah ada di periode penjajahan Belanda dan sampai ini hari berdiri kuat. Hal umur bangunan ini tercantum pada papan nama umur yang tercatat 154 tahun lalu dan ada keterangan jika ada seseorang yang sudah memberi bantuan saat bertandang ke kelenteng di tahun 2489 Imlek atau 1838 M. Bangunan yang paling tua, kan?

Itu tadi referensi 5 tempat rekreasi penjajahan yang harus kamu datangi saat sedang ada di Jambi. Tertarik berkunjung dan nikmati nuansa tempo dahulu di lima tempat ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published.